Skenario Alloh Itu Indah (Luar Biasa)

Tiba-tiba sopir “private taxi” yang mengantar kami dan si kecil berkata, “Saya yang mengantar Anda ke Indonesian Embassy beberapa hari yang lalu.”

Mendengar nama Indonesia disebut saya jadi bersemangat untuk meladeni percakapan dengan sopir ini. Biasanya saya agak malas mengajak sopir taksi bercakap-cakap. Selain demi alasan keselamtan juga karena faktor beda bahasa. Maklum di negara Qatar, a high-income economy sopir taksi bisa berasal dari berbagai macam negara. Sebagian besar berasal dari Asia Selatan macam India, Nepal, Sri Lanka, Bangladesh dan Pakistan.

Saya jawab,”Oh ya!”

Sambil mengingat-ingat kira-kira kapan saya diantar oleh sang sopir ke kantor istri bukan oleh taksi langganan kami. Hamdallah. Performa otak masih lumayan prima. Dengan sedikit memutar ribuan file kejadian beberapa hari yang lalu, tidak perlu waktu yang lama saya dapat mengingat kembali kapan kejadian diantar oleh sang sopir. Pagi itu si kecil merengek minta dibelikan mainan di suatu  Hypermart. Pagi ini juga saya diantar olehnya selepas belanja di tempat yang sama.

Saya melanjutkan, “Iya, sekarang saya ingat. Pagi itu, Anda yang mengantar kami dari Hypermart itu ke kantor istri.”

Kami pun terus melaju. Apartemen kami tujuannya. Sambil sesekali memberikan arah petunjuk menuju tempat tinggal kami. Sesampai di depan di depan apartemen sang sopir menoleh ke kami sambil memberikan kartu nama. Setelah membayar dia pun membantu saya mengangkat beberapa kantong plastik belanjaan.

“Thank you very much,” saya membalas pelayanan prima sang sopir.

———-

Sambil mengendong si kecil dan membawa beberapa kantong belanjaan, tersadar saya tidak mendapati handphone kesayangan di saku celana.

“Pikirku, kalau tidak terjatuh saat keluar taksi, kemungkinan lain tertinggal di dalam taksi yang baru saja saya tumpangi. Karena saya yakin betul masih memegang handphone itu di dalam taksi.”

Setelah meletakkan kantong belanjaan di depan pintu kamar apartemen. Saya bergegas turun menelusuri jalan menuju kamar kami. Sampai ke tempat sang sopir menurunkan kami, handphone itu tidak diketemukan. AHA. Seperti seorang yang mendapatkan pencerahan, saya langsung menuju supermarket langganan yang letaknya persis di bawah tempat tinggal kami. Tujuan saya meminjam telpon untuk menelpon ke sang sopir tadi. Karena kami tidak mempunyai telepon rumah. Mencari warung telepon di sini juga tidak mungkin. Walau tidak tahu siapa nama kasir supermarket saya beranikan diri untuk meminjam handphone. Dan setelah memencet nomor yang terdaftar dalam kartu nama yang diberikan sang sopir, ternyata muncul nama dalam daftar telephon handphone si kasir.

Tidak lama sang sopir menjawab panggilan saya. Ketika saya bertanya apakah handphone saya tertinggal di taksi. Alhamdulillah ternyata benar. Saya pun merayu sang sopir untuk segera kembali ke apartemen kami. Samar ku dengar sang sopir mengiyakan permintaaan saya.

Setelah menggembalikan handphone si kasir seraya mengucapkan terima kasih. Tidak berselang lama kemudian “private taxi” pun tiba. Saya menghampirinya. Sambil membuka kaca mobil dia tersenyum dan memberikan handphone saya. Saya membalas dengan ucapan terima kasih berulang-ulang. Tak lupa ongkos pengganti biaya taksi.

Sambil berjalan menaiki tangga menuju kamar, dalam hati berkata, “Hai Talik. Nikmat Tuhan mana lagi yang akan kau dustakan!”

Lihat. Betapa skenario Alloh luar biasa hebat dan sangat tepat. Precisely kata orang sono. Bagaimana Dia mengatur sang sopir memberikan kartu nama. Padahal pada perjumpaan pertama tidak memberikan kartu nama. Dan kau tersadar kalau handphone tidak ada di saku tidak lama setelah sang sopir pergi. Barangkali kalau lama tersadar kalau handphone tidak ada ceritanya bisa lain. Terus kenapa juga tidak jatuh saat turun dari taksi. Handphone itu tergeletak di jalan raya. Terus ada orang yang berminat mengambil. Mengapa Alloh memberikan ide untuk meminjam telpon ke pegawai supermarket langganan. Terus si kasir juga dengan suka rela memberikan pinjaman. Engkau pun menjadi lebih tenang karena ternyata si empunya handphone mengenal sang sopir.

Coba bayangkan seandainya selepas engkau turun ada penumpang lain. Terus ketika melihat handphone penumpang sebelumnya timbul niat tidak baik mengambil handphone tersebut. Dan seterusnya…dan seterusnya.

Qur'an digital.PNG

“Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?

Ayat ini diulang-ulang sebanyak 31 kali dalam Surah Ar Rahman. Seperti hendak mengingatkan kepada kita semua betapa sering kita melupakan nikmat Tuhan yang terhingga selama ini. Pun membuktikan ke Maha Pemurahan Alloh kepada hamba-Nya.

Post Script
Istilah Private Taxi sebutan untuk taksi selain dari perusahaan taksi resmi (karwa) baik yang resmi atau tidak. Istilah di Indonesia taksi plat hitam.

Salam.
Doa dari Doha,
Mushaireb, Doha, Qatar,
19 Jumada Al Akhir 1437 H / 28 Maret 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *