Kerudung Merah Jambu

Kriiiinggg….

Bunyi suara bel pintu apartemen mengagetkanku yang tengah asyik menikmati sarapan kesiangan. Tak ingin ada suara bel pintu susulan karena lambat merespon, saya segera beranjak dari meja makan menuju pintu apartemen. Walaupun sudah berumur apabila dilihat dari bentuk yang sangat kuno, bel pintu apartemen itu masih sangat lantang apabila dibunyikan. Maklum, pagi itu si cantikku masih terlelap dalam tidur setelah begadang semalam suntuk menikmati video demi video dari handphone ibu bapaknya. Saya tak ingin rentetan suara bel pintu jadul itu membangunkannya.

Ku lihat dari lubang intip pintu sang penjaga apartemen berdiri menunggu pintu dibuka. Kalau sudah si India yang ramah itu yang datang pasti ada hal yang penting ingin disampaikan. Sejak pindah dari apartemen yang dulu saya memang selalu mengintip dari lubang intip pintu untuk mengetahui siapa yang di depan pintu. Selain tidak ingin terganggu oleh para penjaja keliling dari pintu ke pintu yang sering menawarkan barang dagangan. Ini juga saya lakukan sebagai bentuk kewaspadaan apabila yang datang bukan orang yang diinginkan.

Segera saya buka pintu. Belum sempat saya berkata ingin menanyakan ada keperluan apa datang ke kamar kami. Sambil tersenyum dia mengulurkan tangan, memberikan sebuah kerudung anak balita. Saya tidak berpikir panjang, karena dari warna kerudung itu karena saya tahu itu kerudung milik anak saya. Saya terima kerudung itu dengan mengucapkan rasa terima kasih yang tulus. Rupanya kerudung anak saya terjatuh di area dekat lift apartemen. Memang mudah mengenal siapa pemilik kerudung itu, karena dari semua anak balita yang ada di apartemen hanya putri kami yang memakai kerudung. Setelah sang penjaga berlalu pintu saya tutup sambil menghela nafas seraya bersyukur dalam hati saya berkata, “Alhamdulillah Nak, kerudung merah jambu masih milikmu!”

Sekali lagi terima kasih kepada-Mu Yaa Alloh telah menyadarkan saya yang sering lupa bersyukur dan berterima kasih. Seingat saya untuk barang milik anak saya saja sudah banyak yang hilang karena keteledoran. Bukan hanya karena kerudung anak saya sempat terjatuh terus ada orang baik yang mengembalikan kepada kami sehingga nikmat ini harus kami syukuri. Tetapi betapa kami sering kali lupa bersyukur atas limpahan nikmat-Mu selama ini. Tidak usahlah dihitung betapa banyak nikmat-nikmat itu dari setahun, sebulan, seminggu yang lalu. Bahkan dari sejak dari tadi pagi saja kami tidak akan bisa menghitung. Nikmat masih diberikan kesempatan hidup. Bisa dibayangkan betapa sedihnya kita, apabila kita terbangun pagi ternyata canda ria dengan keluarga semalam adalah pertemuan terakhir. Atau ketika sedang tidur, ada bom atau gempa bumi yang menghancurkan tempat tinggal kita. Nikmat masih berfungsinya organ tubuh kami. Mata masih bisa melihat. Mulut masih bisa untuk berdzikir. Telinga masih bisa mendengar suara riang anak kita. Tangan, kaki dan semua masih sehat sedia kala. Nikmat kita masih masih mempunyai persediaan makanan. Bayangkan, Saudara-saudara kita yang harus bersusah payah dahulu agar dapat makan.

Terlebih lagi nikmat iman. Ketika kita dapati itu masih tercantap di hati. Karena pada akhirnya kami sadar, kebenaran firman Alloh, “Dan jika kamu hendak nikmat Alloh niscaya kamu tidaklah dapat menghinggakannya.”
…وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
QS An Nahl : 18

Salam.
Doa dari Doha,
Mushaireb, Doha, Qatar,
14 Jumada Al Akhir 1437 H / 23 Maret 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *