Curi Dengar #1 Mana Yang Anda Pilih

Suatu saat seorang ketua tim dalam sebuah penugasan kantor memanggil anak buah untuk menanyakan progres pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Anak buah datang menghampiri sang ketua dengan wajah tampak suntuk laksana tertumpuk ribuan masalah.

Ketua Tim  : “Kalau boleh saya tahu, sudah sampai mana perkembangan penugasan kita bos?”

Anak buah : “Ini bos, hasil sementara yang bisa saya laporkan.” (sambil menyerahkan flash disk berisi file untuk terlebih dahulu diperiksa oleh atasannya)

Ketua Tim  : “Terima kasih bos!”

Melihat wajah anak buah yang kurang ceria. Sang ketua tim lebih tertarik untuk menanyakan keadaan anak buah.

Ketua Tim  : “Kamu kelihatan pusing bos?”

Mendengar pertanyaan tersebut anak buah hanya tersenyum tanpa membalas sepatah kata pun.

Ketua Tim : “Kenapa bos? Jangan bersedih bos. Lebih memilih mana coba saya tanya. Pusing terlalu banyak pekerjaan atau pusing tidak punya pekerjaan?”

Anak buah  : “Iya juga sih…”

Salam.
Doa dari Doha,
Mushaireb, Doha, Qatar,
22 Jumada Al Akhir 1437 H / 31 Maret 2016.

Skenario Alloh Itu Indah (Luar Biasa)

Tiba-tiba sopir “private taxi” yang mengantar kami dan si kecil berkata, “Saya yang mengantar Anda ke Indonesian Embassy beberapa hari yang lalu.”

Mendengar nama Indonesia disebut saya jadi bersemangat untuk meladeni percakapan dengan sopir ini. Biasanya saya agak malas mengajak sopir taksi bercakap-cakap. Selain demi alasan keselamtan juga karena faktor beda bahasa. Maklum di negara Qatar, a high-income economy sopir taksi bisa berasal dari berbagai macam negara. Sebagian besar berasal dari Asia Selatan macam India, Nepal, Sri Lanka, Bangladesh dan Pakistan.

Saya jawab,”Oh ya!”

Sambil mengingat-ingat kira-kira kapan saya diantar oleh sang sopir ke kantor istri bukan oleh taksi langganan kami. Hamdallah. Performa otak masih lumayan prima. Dengan sedikit memutar ribuan file kejadian beberapa hari yang lalu, tidak perlu waktu yang lama saya dapat mengingat kembali kapan kejadian diantar oleh sang sopir. Pagi itu si kecil merengek minta dibelikan mainan di suatu  Hypermart. Pagi ini juga saya diantar olehnya selepas belanja di tempat yang sama.

Saya melanjutkan, “Iya, sekarang saya ingat. Pagi itu, Anda yang mengantar kami dari Hypermart itu ke kantor istri.”

Kami pun terus melaju. Apartemen kami tujuannya. Sambil sesekali memberikan arah petunjuk menuju tempat tinggal kami. Sesampai di depan di depan apartemen sang sopir menoleh ke kami sambil memberikan kartu nama. Setelah membayar dia pun membantu saya mengangkat beberapa kantong plastik belanjaan.

“Thank you very much,” saya membalas pelayanan prima sang sopir.

———-

Sambil mengendong si kecil dan membawa beberapa kantong belanjaan, tersadar saya tidak mendapati handphone kesayangan di saku celana.

“Pikirku, kalau tidak terjatuh saat keluar taksi, kemungkinan lain tertinggal di dalam taksi yang baru saja saya tumpangi. Karena saya yakin betul masih memegang handphone itu di dalam taksi.”

Setelah meletakkan kantong belanjaan di depan pintu kamar apartemen. Saya bergegas turun menelusuri jalan menuju kamar kami. Sampai ke tempat sang sopir menurunkan kami, handphone itu tidak diketemukan. AHA. Seperti seorang yang mendapatkan pencerahan, saya langsung menuju supermarket langganan yang letaknya persis di bawah tempat tinggal kami. Tujuan saya meminjam telpon untuk menelpon ke sang sopir tadi. Karena kami tidak mempunyai telepon rumah. Mencari warung telepon di sini juga tidak mungkin. Walau tidak tahu siapa nama kasir supermarket saya beranikan diri untuk meminjam handphone. Dan setelah memencet nomor yang terdaftar dalam kartu nama yang diberikan sang sopir, ternyata muncul nama dalam daftar telephon handphone si kasir.

Tidak lama sang sopir menjawab panggilan saya. Ketika saya bertanya apakah handphone saya tertinggal di taksi. Alhamdulillah ternyata benar. Saya pun merayu sang sopir untuk segera kembali ke apartemen kami. Samar ku dengar sang sopir mengiyakan permintaaan saya.

Setelah menggembalikan handphone si kasir seraya mengucapkan terima kasih. Tidak berselang lama kemudian “private taxi” pun tiba. Saya menghampirinya. Sambil membuka kaca mobil dia tersenyum dan memberikan handphone saya. Saya membalas dengan ucapan terima kasih berulang-ulang. Tak lupa ongkos pengganti biaya taksi.

Sambil berjalan menaiki tangga menuju kamar, dalam hati berkata, “Hai Talik. Nikmat Tuhan mana lagi yang akan kau dustakan!”

Lihat. Betapa skenario Alloh luar biasa hebat dan sangat tepat. Precisely kata orang sono. Bagaimana Dia mengatur sang sopir memberikan kartu nama. Padahal pada perjumpaan pertama tidak memberikan kartu nama. Dan kau tersadar kalau handphone tidak ada di saku tidak lama setelah sang sopir pergi. Barangkali kalau lama tersadar kalau handphone tidak ada ceritanya bisa lain. Terus kenapa juga tidak jatuh saat turun dari taksi. Handphone itu tergeletak di jalan raya. Terus ada orang yang berminat mengambil. Mengapa Alloh memberikan ide untuk meminjam telpon ke pegawai supermarket langganan. Terus si kasir juga dengan suka rela memberikan pinjaman. Engkau pun menjadi lebih tenang karena ternyata si empunya handphone mengenal sang sopir.

Coba bayangkan seandainya selepas engkau turun ada penumpang lain. Terus ketika melihat handphone penumpang sebelumnya timbul niat tidak baik mengambil handphone tersebut. Dan seterusnya…dan seterusnya.

Qur'an digital.PNG

“Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?

Ayat ini diulang-ulang sebanyak 31 kali dalam Surah Ar Rahman. Seperti hendak mengingatkan kepada kita semua betapa sering kita melupakan nikmat Tuhan yang terhingga selama ini. Pun membuktikan ke Maha Pemurahan Alloh kepada hamba-Nya.

Post Script
Istilah Private Taxi sebutan untuk taksi selain dari perusahaan taksi resmi (karwa) baik yang resmi atau tidak. Istilah di Indonesia taksi plat hitam.

Salam.
Doa dari Doha,
Mushaireb, Doha, Qatar,
19 Jumada Al Akhir 1437 H / 28 Maret 2016.

Kerudung Merah Jambu

Kriiiinggg….

Bunyi suara bel pintu apartemen mengagetkanku yang tengah asyik menikmati sarapan kesiangan. Tak ingin ada suara bel pintu susulan karena lambat merespon, saya segera beranjak dari meja makan menuju pintu apartemen. Walaupun sudah berumur apabila dilihat dari bentuk yang sangat kuno, bel pintu apartemen itu masih sangat lantang apabila dibunyikan. Maklum, pagi itu si cantikku masih terlelap dalam tidur setelah begadang semalam suntuk menikmati video demi video dari handphone ibu bapaknya. Saya tak ingin rentetan suara bel pintu jadul itu membangunkannya.

Ku lihat dari lubang intip pintu sang penjaga apartemen berdiri menunggu pintu dibuka. Kalau sudah si India yang ramah itu yang datang pasti ada hal yang penting ingin disampaikan. Sejak pindah dari apartemen yang dulu saya memang selalu mengintip dari lubang intip pintu untuk mengetahui siapa yang di depan pintu. Selain tidak ingin terganggu oleh para penjaja keliling dari pintu ke pintu yang sering menawarkan barang dagangan. Ini juga saya lakukan sebagai bentuk kewaspadaan apabila yang datang bukan orang yang diinginkan.

Segera saya buka pintu. Belum sempat saya berkata ingin menanyakan ada keperluan apa datang ke kamar kami. Sambil tersenyum dia mengulurkan tangan, memberikan sebuah kerudung anak balita. Saya tidak berpikir panjang, karena dari warna kerudung itu karena saya tahu itu kerudung milik anak saya. Saya terima kerudung itu dengan mengucapkan rasa terima kasih yang tulus. Rupanya kerudung anak saya terjatuh di area dekat lift apartemen. Memang mudah mengenal siapa pemilik kerudung itu, karena dari semua anak balita yang ada di apartemen hanya putri kami yang memakai kerudung. Setelah sang penjaga berlalu pintu saya tutup sambil menghela nafas seraya bersyukur dalam hati saya berkata, “Alhamdulillah Nak, kerudung merah jambu masih milikmu!”

Sekali lagi terima kasih kepada-Mu Yaa Alloh telah menyadarkan saya yang sering lupa bersyukur dan berterima kasih. Seingat saya untuk barang milik anak saya saja sudah banyak yang hilang karena keteledoran. Bukan hanya karena kerudung anak saya sempat terjatuh terus ada orang baik yang mengembalikan kepada kami sehingga nikmat ini harus kami syukuri. Tetapi betapa kami sering kali lupa bersyukur atas limpahan nikmat-Mu selama ini. Tidak usahlah dihitung betapa banyak nikmat-nikmat itu dari setahun, sebulan, seminggu yang lalu. Bahkan dari sejak dari tadi pagi saja kami tidak akan bisa menghitung. Nikmat masih diberikan kesempatan hidup. Bisa dibayangkan betapa sedihnya kita, apabila kita terbangun pagi ternyata canda ria dengan keluarga semalam adalah pertemuan terakhir. Atau ketika sedang tidur, ada bom atau gempa bumi yang menghancurkan tempat tinggal kita. Nikmat masih berfungsinya organ tubuh kami. Mata masih bisa melihat. Mulut masih bisa untuk berdzikir. Telinga masih bisa mendengar suara riang anak kita. Tangan, kaki dan semua masih sehat sedia kala. Nikmat kita masih masih mempunyai persediaan makanan. Bayangkan, Saudara-saudara kita yang harus bersusah payah dahulu agar dapat makan.

Terlebih lagi nikmat iman. Ketika kita dapati itu masih tercantap di hati. Karena pada akhirnya kami sadar, kebenaran firman Alloh, “Dan jika kamu hendak nikmat Alloh niscaya kamu tidaklah dapat menghinggakannya.”
…وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
QS An Nahl : 18

Salam.
Doa dari Doha,
Mushaireb, Doha, Qatar,
14 Jumada Al Akhir 1437 H / 23 Maret 2016.