Kalau Anda ditanya mengenai mengenai sosok wanita kira-kira apa yang ada di pikiran Anda ? Mungkin Anda akan menjawab ibu yang Anda cintai atau isteri Anda terkasih atau mungkin putri Anda tersayang. Atau mungkin Anda akan menjawab bahwa wanita adalah sosok yang selama ini “termarginalkan” (saya tidak membuka perdebatan atas ini) di dunia ini, dianggap makhluk kedua setelah lelaki, makhluk yang lemah karena tercipta dari tulang rusuk Adam atau sebagainya. Tapi apa benar demikian?
Wanita yang namanya diabadikan menjadi nama surat keempat dalam Al Quran yaitu surat An Nissa (Wanita) bahkan tidak hanya itu, ada surat Al Mujaadillah (Wanita yang mengajukan gugatan) dan Al Mumtahanah (Wanita yang diuji) adalah sosok yang mempunyai peranan penting tidak hanya sebagai pedamping lelaki dan ibu bagi anak-anaknya tapi menjadi agent of change (agen perubah) dalam kehidupan ini. Tenggok saja tercatat dalam sejarah dari Asyiah isteri Firaun, Khadijah binti Khuwailid, sampai Aisyah binti Abu Bakar.
Di Indonesia (mungkin) tokoh yang menjadi pendorong wanita memperjuangkan hak-haknya, yaitu R.A Kartini. Nah, menurut Anda siapakah sosok Kartini di Indonesia saat ini? Kalau boleh memilih aku memilih Tri Mumpuni. Siapakah dia itu ? Anda penasaran lihat di sini.
Bagaimana dengan Anda, sila dibagi di sini.
Menurut buku Aladdin Factor karya Jack Canfield dan Mark Viktor Hansen disebutkan bahwa setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60.000 pikiran.
Oleh karena itu, kemampuan mengarahkan pikiran kita menjadi sangatlah penting. Jika arah yang ditentukan bersifat negatif maka sekitar 60.000 pikiran akan keluar dari memori ke arah negatif. Sebaliknya, jika pengarahannya positif maka sejumlah pikiran yang sama juga akan keluar dari ruang memori ke arah yang positif pula.
Akan tetapi, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran (sayang nga diketahui dari universitas mana) di San Francisco pad tahun 1986 disebutkan bahwa lebih dari 80% pikiran manusia bersifat negatif. Hasil penelitian ini memperkuat pernyataan bahwa nafsu cenderung menyuruh pada keburukan. Dengan hitung-hitungan sederhana, 48.000 pikiran yang keluar dari kita adalah pikiran negatif yang semuanya itu turut mempengaruhi perasaan, perilaku, serta penyakit yang mendera jiwa dan raga. Jika demikian, kita harus ekstra hati-hati dalam memilih pikiran di benak kita.
Diambil dari buku “Terapi Berpikir Positif” karya DR Ibrahim Elfiky.
Walaupun sangat terlambat apabila hendak memberi komentar mengenai ormas atau gerakan moral NASIONAL DEMOKRAT (NASDEM) yang dipunggawai oleh Surya Paloh bos Metrotv itu, akan tetapi ketika beberapa minggu yang lalu sempat bertemu Anies Baswedan yang menjadi pembaca manifesto NASDEM saat pendeklarasian, muncul keinginan untuk sekedar menebak. Bisa jadi tebakan ini juga menjadi tebakan sebagian besar semua orang yang sering mencermati dunia politik di tanah air.
Seperti dilansir di beberapa media, bahwa menurut pendirinya gerakan ini didirikan sebagai gerakan moral saja tanpa bermaksud untuk gerakan politik atau berubah menjadi sebuah parpol.
Patut disimak dan ditunggu apakah benar-benar gerakan ini tetap menjadi gerakan moral atau akan berubah jadi parpol dan ikut berpartisipasi dalam PEMILU 2014.
Hmmm..kita tunggu aja yah
Menurut Anda apakah apa yang akan saya tulis berikut ini merupakan gejala bahasa? Atau mungkin keterbatasan atas bahasa nasional kita, BAHASA INDONESIA. (ech malu dong mengaku cinta Indonesia tapi tak paham benar bahasa nasional sendiri)
Kira-kira apa yang Anda terpikirkan apabila mendengar orang berkata, “Hmm BAU banget?” atau mungkin kata-kata yang sekarang sering digunakan di TV dan radio-radio karena sedang maraknya kasus di negeri kita, “Bapak TSS dari instansi itu TERLIBAT?
Entah mengapa secara sadar atau tidak sadar kedua kata tersebut walaupun bisa berarti bermacam-macam selalu hal negatif yang dikedepankan. Kita ambil contoh “BAU”, ketika ada orang berkata seperti kata di atas, sudah pasti yang ada dipikiran kita adalah BAU yang berarti BAU TIDAK SEDAP, BAU BUSUK dll yang semacamnya. Padahal bau itu sendiri bisa ada berbagai macam mungkin bau sedap, bau tidak, bau wangi, dll. Tapi kebanyakan orang menggunakan kata BAU untuk mewakili bau yang tidak sedap. Terus digunakan kata AROMA untuk mewakili hal yang sebaliknya. (walaupun apabila ditambah aroma tidak sedap, aroma busuk tetap saja maknanya sama).
Kemudian apa yang terpikirkan dengan kata yang kedua yaitu TERLIBAT. Pastilah kita beranggapan pasti orang itu terlibat hal-hal (keigatan) negatif. Terus digunakan kata IKUT SERTA yang mewakili untuk kegiatan yang bersifat positif. Padahal dari makna sama saja, baik terlibat atau ikut serta sama-sama berarti mempunyai andil.
Atau mungkin rekan-rekan juga mempunyai kata-kata yang lain yang serupa penggunaannya? Boleh dibagi di sini! Apakah ini merupakan gejala bahasa? Aku tak tahu~~
Ini adalah “RUMAH” baru saya. Sebelumnya saya bertempat tinggal di sini. Dengan senang hati saya mengundang handau taulan apabila berkenan untuk berkunjung di rumah kami yang baru.
Sila berkomentar di keduanya. Terima kasih
Hingar bingar pergelaran Jakarta International Java Jazz Festival yang diselenggarakan pada tanggal 5, 6 dan 7 Maret 2010 tak pelak membuat saya berkeinginan untuk mengunjunginya.
Bermodalkan kartu mahasiswa dan teman kuliah akhirnya saya bisa juga menjadi satu diantara ribuan orang malam itu dengan tiket student price (padahal saya dah mirip dosen ketimbang mahasiswa hehehe). Bersama teman kuliah, serta saudara temanku itu saya bisa bergembira ria plus berjubel ria pada hari kedua pergelaran.
Sudah barang tentu sebuah kamera digital dibawa serta untuk sekedar mengabadikan moment itu, tapi melihat antusias penonton yang sangat luar biasa hasrat mengambil foto menjadi hilang (maklum bukan fotografer, kalau bagi fotografer ini moment yang sangat dilupakan). Iyha, awalnya juga begitu tapi melihat para fotografer mengeluarkan kamera yang maha canggih saya jadi minder sendiri, karena hanya kamera digital biasa.
Akan tetapi rasa minder sontak hilang ketika saya bertemu Ovie mantan gitaris Ucamp yang sekarang berafiliasi dengan /Rif. Ketika kesempatan itu datang, Ovie yang sedang duduk bersama manajer pribadinya di sebuah stand seorang penjaganya menawarkan berfoto bersama saya pun mengiyakan. Ternyata Rocker juga manusia, biarpun bertampang sangar Ovie dengan nama asli Noviar Rachmansyah yang sekarang menjadi suami Titi DJ ramah juga.

Oleh-oleh yang sangat menarik, selain bisa berdendang ria dengan para musisi jazz kenamaan macam Ivan Lins, Maliq & D’ Essentials dan lain lain juga bisa berfoto dengan si raja tato..Ayo mas Ovie terus berkarya. Cuma satu yang ada di dalam hati suatu saat kalau Anda sudah jadi kakek akan ditanya ama cucunya, “Ech, akek dulu pleman yha?” Kata siapa, jawab Ovie Itu atonya banyak hehehe, jawab sang cucu.
Ting ting ting..
“Berisiiik nga ngliat apa? Itu lampunya masih merah !!! Anak kecil juga tahu kalau lampu merah tandanya berhenti. Kurang lebih begitu kalimat yang keluar dari mulutku ketika sedang menunggu lampu hijau namun beberapa pengguna jalan yang lain tidak sabar untuk segera menerobos lampu pengatur lalu lintas tersebut.
Entah mengapa akhir-akhir ini kekesalanku semakin memuncak ketika melihat orang dengan seenaknya berperilaku menurut kehendaknya sendiri. Barang kali mereka pikir hidup ini hanya untuk memenuhi keinginan mereka.
Apa sulitnya untuk mengantri, toh dengan begitu jadi lebih tertib. Apa sulitnya untuk menaruh sampah di plastik atau di bawah jok, nanti ketika sudah sampai rumah baru dibuang. Jangan main buat sampah lewat jendela mobil. Malu bisa beli mobil tidak bisa beli plastik sampah.
Ini lebih konyol lagi, sudah tahu berderet pengendara motor pelan-pelan karena ada genangan air, takut kena cipratan air..ech sekonyong-konyong malah sampean ngebut. Udah jagoan kali yha.
Melihat tingkah laku orang-orang yang kadang seenaknya sendiri tak jarang semua umpatan keluar dari mulut kotorku disertai sumpah serapah. Kadang disertai dengan balas dendam.
Terlepas ini menyelesaikan masalah atau tidak yang penting ada sedikit kepuasan dan penyesalan. Mengapa aku berbuat begitu? Bukannya aku juga dengan orang yang tadi melakukan hal tersebut.
Mengingat hal itu membuatku semakin takjub atas kemuliaan Nabi Muhammad ketika beliau berdakwah ke Thaif. Bukan hanya dihina dan dicaci bahkan lemparan yang membuat beliau berdarah. Bahkan malaikat Jibril menawarkan bantuan apabila Nabi hendak membalas dendam. diri bersedia
Tapi Nabi tetap bersabar malah berdoa, “Allahummahdii qawmii fainnahum laa ya’lamuun” (Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena mereka masih juga belum faham tentang arti Islam).
Atau mungkin kisah yang terkenal tentang kesabaran beliau dengan pengemis Yahudi yang buta. Yaa nabi salam ‘alika.
Untuk seorang bayi mungil cantik yang terlahir hari ini 52 tahun yang lalu.
Untuk seorang anak yang rela tidak melanjutkan sekolah demi para saudaranya.
Untuk seorang istri yang setia menemani dan melayani suami tercinta.
Untuk seorang ibu yang sudah bersusah payah mengandung dan melahirkan ketiga putranya.
Untuk seorang ibu yang menahan lapar menunggu anak anak tertidur karena kekenyangan.
Untuk seorang ibu yang rela tidak membeli perhiasan dan baju mewah demi biaya sekolah putranya.
Untuk seorang ibu yang rela terjaga menahan kantuk karena takut keluarga tidak makan sahur.
Untuk seorang ibu yang rela menunggu berjam-jam di depan rumah menunggu suami dan putranya belum kembali ke rumah.
Untuk seorang ibu yang tidak pernah menggeluh bila suami dan putra minta di buatkan masakan yang berbeda-beda.
Untuk seorang ibu setia menemani putranya ketika sedang sakit.
Semoga keberkahan, keselamatan, kesehatan, kemudahan berlimpah dari Alloh buatmu yaa ibu.

I Luv U mom

Apa kabarnya Timnas Indonesia (baca tim sepak bola nasional dan persepakbolaan Indonesia)? Jangankan mengikuti perkembangannya, mendengarkan apa yang terjadi mengenai persepakbolaan kita aja sering membuat jengkel dan geram? Iyha, jengkel karena hampir tidak ada prestasi yang menggembirakan bagi Timnas hampir di semua level. Timnas senior gagal melaju di penyisihan Piala Asia 2010, Timnas U-19 nasibnya juga tidak jauh beda gagal bersaing dengan Jepang dan Australia dan yang lebih mengecewakan adalah Timnas Sea Games Laos babak belur dihajar Laos dan Myanmar.
Kondisi persepakbolaan kita lebih mengenaskan serupa dengan kondisi carut marutnya bangsa ini. Tawuran antar pemain masih sering menghiasi hampir di semua liga Indonesia. Peraturan yang kurang tegas menjadi salah satu penyebab utamanya. Belum lagi klub sering dijadikan kuda tunggangan bagi pengurus untuk ambisi politiknya.
Harapan untuk melihat sepak bola kita di pentas dunia minimal di Asia Tenggara sebenarnya sudah muncul ketika kita menjadi tuan rumah Piala Asia 2006 lalu. Besarnya dukungan dan antusias dari masyarakat di jawab oleh PSSI dan Timnas dengan performa yang cukup menjanjikan. Walau masih perlu perbaikan tentunya.
Berbicara tentang Piala Asia 2006 lalu banyak kenangan yang tak terlupakan. Setelah kita bersuka ria karena gol dari Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas di laga awal penyisihan grup yang mengantarkan kita menang 2-1 atas Bahrain namun timnas kembali gagal mengatasi timnas Saudi Arabia dan Korea Selatan. Dukungan suporter juga tidak kalah hebatnya. Hampir setiap timnas berlaga Gelora Bung Karno memerah karena oleh ribuan suporter timnas.
Satu hal yang pasti tidak terlupakan bagi aku tak lain adalah ketika sedang berburu tiket piala asia tersebut yaitu berkesempatan berfoto bareng dengan punggawa pemain PSM dan Sriwijaya FC, Syamsul Khairuddin dan Ferry Rotinsulu.

Hidup Timnas
Namun satu hal yang pasti mimpi kita melihat timnas Indonesia di pentas dunia jangan sampai hilang.

Garuda selalu di dadaku
Ahad pagi yang cerah, 22 November 2009 ketika sedang asyik bersepeda motor ria dengan teman setiaku Honda Supra X 125 D milik kakak menggelilingi Jakarta, melihat kerumunan orang di bundaran Hotel Indonesia. Iseng, segera ku parkir di sekitar bundaran. Sudah tidak salah lagi, pasti mereka sedang berdemo menyuarakan sesuatu. Sebenarnya aku juga sudah tahu, hari itu beberapa elemen masyarakat sedang mendukung penghentian Kasus Bibit-Chandra, yang mungkin lebih dikenal masyarakat dengan istilah Cicak versus Buaya.

C I C A K
Awalnya, tidak ada yang memikatku untuk mendekat karena memang demo itu hampir berakhir. Namun, ketika terjadi sedikit keributan antara pengunjuk rasa dengan aparat polisi karena pendemo membakar boneka buaya yang terbuat dari jerami dan ketika itu pula polisi berusaha memadamkannya.
Dengan bermodal camdig baru, bergaya ala wartawan foto amateur aku tertarik mendekat dan langsung mengambil beberapa moment kejadian. Ini salah satu diantaranya.

Asap oh asap

Replika Buaya yang dibakar
Ech, ndilalah kata orang Jawa di sudut bundaran malah berkerumun orang asyik meminta foto bareng dengan salah satu aktivis KOMPAK (Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi) mas Fadjroel Rachman (ich mas kesannya akrab loe liq), yang tak lain adalah calon presiden dari jalur independen 2009 namun terganjal karena belum ada peraturan yang mengakomodirnya. Dan, ia pun berniat bisa maju lagi di tahun 2014 lewat jalur yang sama. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan aku pun ikut mengantri untuk foto bareng. Kesan yang pertama yang muncul si mas ini orangnya ramah.

Thalique dan Fadjroel Rachman
Titip salam perbaikan Indonesia ke depan mas. Jangan sampai ketika engkau menjabat suatu saat nanti, engkau yang didemo.